Mantugaul's Gaul Site

Talk Less Pics More

The Best of Pontianak 25 April 2010


N0.00105 E109.32229

Pontianak yang terletak di garis Khatulistiwa dengan koordinat S0 01.380 E109 20.682 adalah kota kelahiran saya. Seorang teman saya asal Surabaya bernama Herry SW kebetulan mendapat tugas di Pontianak selama 3 hari 2 malam. Dan inilah tulisan beliau mengenai kota Pontianak. Karena beliau adalah penulis di berbagai di media, tidak heran tulisan beliau sangat menarik untuk dibaca. Setelah mendapat izin beliau, tulisan beliau mengenai kota Pontianak diizinkan untuk diposting di blog ini. Tulisan ini aslinya terdiri dari 3 bagian yang saya padatkan menjadi 1 bagian tanpa mengubah apapun, kecuali menambahkan titik koordinat bumi pada masing-masing foto.

Website beliau adalah http://www.ubaya.com … terima kasih atas tulisan oom HSW (Herry Setiadi Wibowo), semoga Anda menikmati tulisan beliau.

===================================================================

Saat saya masih SMP, ada lagu berjudul “Satu Jam Saja” yang dipopulerkan oleh Asti Asmodiwati. Hari ini, Selasa, 20 April 2010, saya memilih tiga jam saja. Karena itu, syair lagu yang ditariksuarakan Asti saya ubah menjadi:
ayo keliling
aku tak ingin berdiam
tiga jam saja
mengitari Pontianak
mencoba yang enak-enak
Pak Yam Hiong, pria Pontianak yang selama ini hanya saya kenal namanya di sebuah milis, mengajak
saya mewujudkan keinginan itu. “Ini nomor telepon saya. Kalau sudah tiba di Pontianak, silakan telepon
saya,” ujarnya via email.

S0.14687 E109.40478

S0.14683 E109.40497

Dalam perjalanan dari Bandara Supadio Pontianak ke hotel, saya meneleponnya. “Baik, Pak Herry.
Rumah saya dekat dengan hotel tersebut kok,” jawabnya. Sekitar lima belas menit setelah saya check in,
Pak Yam Hiong telah menjemput saya di hotel. Saat berjumpa di lobi hotel, dengan yakin ia menyapa
saya. “Pak Herry kan?” tanya dia seraya mengulurkan tangan. “Saya tahu karena pernah melihat foto
Bapak.”
Nasi Campur Asan di Jl Diponegoro, Pontianak, menjadi tempat perhentian pertama. Daging ayam dan
“sapi kaki pendek” disajikan dengan porsi yang tidak pelit. Disertakan pula semangkuk kuah yang
hangat dan sedap.

S0.02985 E109.33845

S0.03465 E109.34177

Usai menyantap sepiring nasi campur yang lezat, seorang pria berkaca mata memasuki gerai bernama
resmi Nasi Ayam Asan 333 itu. Ia mendekat ke meja saja. “Pak Herry kan? Saya Eddy,” katanya
memperkenalkan diri. Pria bernama lengkap Eddy Tsu tersebut sehari-hari dikenal sebagai juragan
sebuah merek notebook. Ya, juragan dalam arti yang sebenar-benarnya. Bos besar deh. Sebelumnya
kami belum pernah bertemu. Komunikasi hanya dilakukan via email dan Yahoo Messenger.
Tujuan berikutnya Hotel Peony di Jl Gajahmada, Pontianak. Bukan untuk menginap, melainkan duduk
dan menikmati kudapan di The Roof Cafe yang berada di lantai lima alias lantai paling atas hotel
berbintang tiga itu. Dari lantai dasar, saya, Pak Yam Hiong, dan Pak Eddy Tsu naik lift hingga lantai
empat. Setelah itu, mesti keluar dan berjalan kaki naik ke lantai lima. Dari jendela kafe, kami bisa
melihat jembatan kebanggaan Pontianak yang lampu-lampunya menyala di kala malam.
Ada sebuah cerita tentang Hotel Peony. Sekarang kondisi hotel tersebut sudah jauh lebih baik daripada
bertahun-tahun silam. Dulu, saat barusan beroperasi, konon tamu yang membuat “gempa lokal”
suaranya bisa terdengar oleh tamu lain yang menginap di kamar sebelah.
Kok bisa? Silakan diutak-atik mathuk sendiri. Daripada membahas hal itu, lebih baik kembali cerita
tentang The Roof Kafe deh. Nama The Roof Cafe ternyata bermakna dua hal. Pertama, ia berada di
lantai teratas Hotel Peony. Kedua, di kafe itu terdapat semacam lantai mezzanine yang disediakan untuk
penyanyi dan pemain musik. Jadi, mereka benar-benar bermusik di atas kafe deh. Dari posisi saya
duduk, si penyanyi kira-kira duduk hampir dua meter lebih tinggi.
Di kafe tersebut, seorang kenalan yang lagi-lagi belum pernah berjumpa darat bergabung. Namanya, Pak
Suyandi Liyis. Ia dikenal sebagai pemilik toko gadget, khususnya GPS, dan apotek di Kota Khatulistiwa
itu. Inilah empat sekawan yang tadi berkumpul di The Roof Cafe. Yang berdiri di belakang adalah Pak
Eddy Tsu (kiri) dan Pak Yam Hiong. Sedangkan yang duduk, Pak Suyandi Liyis (kiri) dan saya. Tanpa
disengaja, kami berempat seluruhnya pemilik mata empat. Semua berkaca mata.

Segelas jus apel berpadu jahe saya pesan. Kudapannya, pisang goreng yang saat hendak dimasukkan ke
dalam mulut idealnya dicocol dengan selai srikaya. Nyam… nyam… nyam…. Oh ya, minuman dan
makanan itu berstatus halal.

S0.03465 E109.34177

Ludes mencocol dua piring pisang goreng, Pak Suyandi pamit karena hendak futsal. Pak Eddy menuju
ke Pontianak Convention Center (PCC) untuk mempersiapkan pameran komputer yang dimulai besok.
Saya dan Pak Yam Hiong ikutan ke PCC. Karena kegerahan, kami hanya bertahan beberapa menit di
PCC.
Perburuan babak berikutnya dimulai. Meluncurlah saya dan Pak Yam Hiong ke Jl Gajahmada,
Pontianak. Di depan showroom Honda Panca Motor II, Jl Gajahmada 60, duduklah kami dalam
kegelapan. Ya, gelap karena listrik padam. Beratapkan langit terbuka, segelas es lidah buaya disendok,
dikunyah, dan disedot. Sluurrppp…. Lidah buayanya dipotong kotak-kotak. Sepintas mirip nata de coco.

S0.03144 E109.34029

Saya juga memesan kwe kia theng. Nama makanan yang terdengar asing di telinga, bukan? Saya pun
baru tadi mengetahui ada hidangan bernama seaneh itu. He… he… he….

S0.03144 E109.34029

Kwe kia theng yang saya pesan terdiri atas:
* potongan daging “sapi kaki pendek”. Maaf, tidak halal.
* kwe kia. Semacam kwetiau, tetapi yang ini dipotong persegi panjang.
* daun untuk sup. Entah daun apa itu namanya.
* kuah.
Normalnya, kwe kia theng disertai dengan jerohan B2 dan telur. Namun, saya sengaja memesan tanpa
dua item tersebut.
Kenyang? Iya sih. Tetapi, wisata kuliner ternyata belum selesai. Dari lokasi penjual es lidah buaya dan
kwe kia theng kami berjalan kaki menghampiri Om-Om penjual tau swan.

S0.02989 E109.33946

Tau swan merupakan makanan ringan yang halal. Kandungannya terdiri atas dua komponen pokok:
* “dalaman” kacang hijau. Anda pasti mengetahui kacang hijau. Bagian luarnya berwarna hijau,
sedangkan dalamnya putih. Nah, “dalaman” itulah yang diproses untuk tau swan. Di kampung-kampung
Surabaya, biasanya ada penjual kacang kuah yang berkeliling. Selain kacang, mereka biasanya
membawa satu item lain yang lebih kental. Mirip itu deh.
* cakue berdiameter kecil yang digoreng kering. Menurut saya, ukuran dan tingkat kerenyahannya
berada di antara cakue yang lazim kita kenal dan untir-untir alias plintiran. Lebih kecil dan lebih keras
daripada cakue, namun lebih empuk ketimbang untir-untir.
Dalam perjalanan pulang dari lokasi penjual tau swan ke tempat parkir mobil, singgahlah kami
mengambil pesanan kokue goreng. Lagi-lagi ini hidangan baru bagi saya. Ia memadukan tepung, keladi,
kucai, telur, semacam kwe kia (atau memang kwe kia ya?), dan entah apa lagi. Bagaimana rasanya?
Hmm… bayangkan Anda mencampurkan siomay Bandung dengan kwetiau goreng deh. Saya kesulitan
memberikan gambaran yang lebih rinci. Paket penjualan satu lembar bungkus berwarna cokelat, satu tas
kresek hitam, dan satu bungkus plastik sambal cair. Tadi iseng-iseng saya teteskan sambal cair ke
sendok teh di hotel. Sluurrpp… Waks, pedas sekali! Karena digoreng memakai campuran minyak B2,
kokue goreng serta merta dikategorikan sebagai makanan tidak halal.

S0.03066 E109.33987

S0.03167 E109.34027

 

S0.03167 E109.34027

Sebelum pulang ke hotel, kami berhenti sejenak di tepi jalan. Sebuah gerobak sederhana menjadi sasaran
perburuan. Salah satu menu yang ditawarkan oleh si pemilik gerobak adalah liang teh pahit. Memang
benar-benar pahit deh. Selama bermenit-menit rasa pahit itu masih tersangkut di lekukan kerongkongan
saya. Liang teh tentu saja halal dikonsumsi oleh siapa pun.
Sudah dulu ya… kokue goreng di meja menanti dihabiskan nih.🙂

.

Rabu, 21 April 2010 sekitar pukul 07.00. Saya yang sudah mandi dan berpakaian rapi, tetapi kemudian
tertidur di kursi kamar, dibangunkan oleh bunyi telepon. Pak Yam Hiong menelepon. Sudah cukup lama
saya mengenalnya di sebuah milis. Tetapi, baru kemarin malam kami kali pertama berjumpa darat.
Ia menjemput saya di hotel. “Pagi ini kita makan mie kepiting. Di dekat sini kok,” ujar Pak Yam Hiong.
Tak sampai lima menit perjalanan dengan mobil, kami sudah tiba di depan gerai Bakmi Ou Kie.
Lokasinya di seberang kompleks ruko di Jl Nusa Indah, Pontianak. Gerai tersebut buka pada Selasa-
Minggu mulai pukul 05.30 hingga 17.00. Setiap Senin, gerai tersebut libur.
Satu porsi mie kepiting bukan hanya berisi mie dan daging kepiting, melainkan disertai pula dengan
aneka pelengkap.

S0.02448 E109.33952

Kompletnya, ia terdiri atas:
* mie atau kwetiau. Silakan pilih salah satu. Mienya kecil-kecil. Diameternya lebih mungil daripada
Indomie atau Supermie.
* irisan hekeng. Tampilan fisik dan cita rasa hekeng mirip dengan kekian yang selama ini kita kenal.
* potongan daging kepiting.
* capit kepiting.
* potongan kecil-kecil daging “sapi kaki pendek”.
* semangkuk kuah.
Biar lebih jelas, saya lampirkan dua foto tambahan yang berbeda deh. Ini kalau pilih mie:

S0.02448 E109.33952

Sementara itu, kalau memilih kwetiau, seperti ini tampilan fisiknya:

S0.02448 E109.33952

Saya sebenarnya bukan penggemar seafood. Namun, ternyata saya dapat menikmati semangkuk mie
kepiting yang disajikan dalam kondisi hangat. Waktu melihat tiga capit kepiting yang nangkring pada
mangkuk di hadapan saya, saya sempat bingung. Gimana ya cara makannya? Pak Yam Hiong langsung
mendemonstrasikan caranya. Ternyata, gampang. Pegang capitnya, gigit bagian yang gembul, lalu jepit
dan tarik menggunakan gigi. Selesai deh.
Tuntas makan pagi mie kepiting, saya segera kembali ke hotel. Saya harus memastikan bahwa saat
panitia seminar menjemput saya di lobi hotel, saya telah siap sedia. Pembicara wajib memberikan
contoh kedisiplinan, bukan? He… he… he….
Dalam perjalanan kembali ke hotel, mobil yang dikemudikan Pak Yam Hiong mendadak berputar balik.
“Kita coba cakue goreng,” ujarnya. Penjual cakue yang dikenal sebagai Cakue Muslim itu setiap pagi
beroperasi di Jl Pattimura, Pontianak. Ancar-ancarnya, di dekat Pasar Swalayan Kaisar.

S0.02882 E109.33890

Syahdan disebut Cakue Muslim karena si penjual yang berasal dari Pulau Jawa itu seorang muslim.
Lima batang cakue goreng dan sebungkus plastik saus saya bawa untuk camilan seraya menanti panitia
seminar datang menjemput.
Siang hari, kala saya masih cuap-cuap di hadapan peserta seminar, rupanya Pak Yam Hiong
mengirimkan email. Saya baru mengetahuinya saat istirahat makan siang. Isinya singkat:
“Pak, ada undangan river tour dari bos Robby, tokonya ditepian kapuas.
naik sampan menyusuri kapuas….kayaknya sih seru juga….hehehehehe
yam hiong”
Pak Robby yang disebutkan oleh Pak Yam Hiong kali pertama saya kenal di sebuah milis. Nama
lengkapnya, Robby Yanto Sudjana. Walaupun belum pernah berjumpa, saya dan Pak Robby pernah
bertransaksi gadget secara jarak jauh.
Sekitar pukul 15.30, ketika tugas saya sebagai pembicara seminar telah tuntas dan giliran pembicara lain
yang tampil, Pak Yam Hiong menjemput saya. Tujuan pertama menjemput Pak Suyandi Liyis di markas
besarnya, Toko Navigasi.

S0.02766 E109.34231

Selanjutnya, menuju ke toko Pak Robby yang berada di tepi Sungai Kapuas. Pak Robby ternyata juragan
telur ayam. Entah ada berapa ribu telur yang memadati tokonya.

S0.02548 E109.34421

S0.02548 E109.34421

Biarpun sehari-hari bercengkarama dengan telur, Pak Robby tidak melupakan gadget. Buktinya, di meja
kerja duduk manis sebuah netbook MSI.

S0.02548 E109.34421

Pak Robby mempersilakan kami bertiga ke belakang toko. “Kapal pesiar” sudah siap mengantarkan
kami mengarungi Sungai Kapuas. Jujur saja, saya yang tidak bisa berenang langsung deg-degan saat
naik ke sampan. Sampan bergoyang-goyang. “Tenang saja, nggak apa-apa kok,” ujar Pak Robby, Pak
Suyandi, Pak Yam Hiong, maupun si tukang sampan. Walaupun tidak memegang dada saya, mereka
tampaknya tahu kalau jantung saya (atau hati ya?) berdebar-debar.
Sampan mulai didayung. Meter demi meter meninggalkan dermaga sederhana di belakang toko Pak
Robby. Inilah ekspresi saya. Tampak tersenyum, padahal aslinya deg-degan.

S0.02603 E109.34545

Nah, kalau yang di bawah ini Pak Suyandi (paling depan), lalu Pak Yam Hiong, dan Pak Robby. Saya
lupa bertanya kepada si tukang sampan, siapakah namanya.

S0.02639 E109.34588

S0.02658 E109.34615

S0.02732 E109.34714

Coba perhatikan foto di atas. Rumah-rumah itu berarti berdiri di atas permukaan air. Apa nggak
khawatir tercebur ya?
Setelah bersampan sekitar 15 menit (yang bagi saya terasa begitu lama ha… ha… ha…), kami merapat ke
sebuah dermaga. Masjid Jami Pontianak terlihat cukup jelas dari dermaga itu. Masjid yang dikenal pula
sebagai Masjid Jami Sultan Abdurrahman itu adalah satu di antara dua bangunan yang menjadi pertanda
berdirinya kota Pontianak pada 1771.

S0.02744 E109.34804

Beberapa sampan juga sedang bersandar di dermaga kecil, tempat kami mendarat. Sebagian di antaranya
dilengkapi dengan motor. Jadi, sampannya bisa lebih ngebut.
Kami hendak mengunjungi Keraton Pontianak. Tadi disebutkan bahwa Masjid Jami adalah satu di
antara dua bangunan yang menjadi tetenger berdirinya Pontianak. Satu bangunan lainnya adalah Keraton
Pontianak alias Keraton Kadariyah. Lokasinya di Kampugn Dalam Bugis, Pontianak Timur. Keraton
berukuran 30 x 50 meter itu merupakan keraton terbesar di Kalimantan Barat.
Dari dermaga, kami harus berjalan kaki selama sekitar sepuluh menit. Sebelumnya, sang tukang sampan
berpesan agar kami tidak mengeluarkan ponsel saat berjalan kaki. Sebab, lokasi yang akan kami lewati
termasuk daerah rawan.

S0.02833 E109.34926

S0.02845 E109.34937

S0.02845 E109.34937

S0.02845 E109.34937

Kondisi keraton tampak terawat dengan cukup baik. Namun, bila ingin lebih banyak menjaring
wisatawan plus agar wisatawan merasa lebih nyaman, idealnya ada perubahan sikap yang harus
dilakukan.
Ada apakah gerangan? Menjelang meninggalkan keraton, penjaga keraton akan meminta pengunjung
memasukkan sumbangan sukarela. Begitu terlihat ada pengunjung yang belum memasukkan
sumbangan, sang penjaga bakal bertanya, “Mengapa kok tidak memasukkan sumbangan?” Nada
bicaranya, menurut saya, agak tinggi.
Di depan pintu utama keraton, beberapa orang terang-terangan meminta uang kepada pengunjung. Itu
belum termasuk beberapa orang lain yang dari bahasa tubuhnya juga tampak mengharapkan pemberian
uang.
Saya yakin, pengunjung takkan keberatan bila diminta menyisihkan sedikit rezeki untuk sumbangan
pengelolaan dan perawatan keraton. Namun, caranya tentu harus dikemas dengan lebih elegan dan tidak
terkesan memaksa.
Kembali ke sampan. Kengerian kembali menyergap saya. Apalagi, saat sampan baru berjalan beberapa
menit, ada kapal pembawa minyak lewat. Sampan bergoyang-goyang cukup keras. “Santai saja. Ikuti
saja gerakannya, jangan dilawan,” kata Pak Robby, Pak Suyandi, dan Pak Yam Hiong menenangkan
saya.
Kelar bertegang-tegang di sampan, kini saatnya berolah raga mulut di depot Nasi Akwang. Depot yang
berada di Jl Pahlawan 238/9, Pontianak itu terkenal dengan nasi campurnya.

S0.04028 E109.34718

Biarpun sama-sama nasi campur, gaya penyajian Nasi Akwang berbeda dengan Nasi Ayam Asan 333
yang saya coba sehari sebelumnya. Tampilan daging pada nasi campur ala Akwang lebih terang
daripada nasi campur ala Asan. Keduanya sama-sama lezat. Keduanya juga sama-sama tidak halal.
Untuk penghilang dahaga setelah menghabiskan sepiring nasi campur, segelas es liang teh siap diteguk.
Warnanya bukan cokelat gelap, melainkan ungu semitransparan.

S0.04028 E109.34718

Sekarang saatnya mencari makanan penutup. Mobil meluncur ke Jl dr Setiabudi dan berhenti di depan
penjual chai kue. Ada empat pilihan isi. Yaitu, kacang hijau, kucai, talas, dan bengkoang. Daripada
bingung pilih mana, pesan semuanya deh. Masing-masing satu buah. Chai kue yang berbahan baku
utama tepung beras digoreng dulu di wajan datar seperti yang biasa kita lihat di penjual martabak.
Dibolak-balik sebentar, lalu diangkat dan diletakkan di sebuah piring mungil. Bawang goreng
ditaburkan. Selamat makan!

S0.03261 E109.34223

Kenyang…. Saatnya balik ke hotel. Sambil menanti telepon dari panitia yang berencana mengajak
makan malam, saya membalas beberapa email penting via laptop.
Pukul 20.30, Pak Robby menelepon saya. Wisata kuliner dimulai lagi. Maaf, seluruhnya tidak halal.
Sasaran pertama Bubur Pesawat di Jl Siam. Satu mangkuk bubur polos disantap dengan aneka hidangan
yang bebas dipilih oleh konsumen.

S0.03012 E109.34173

S0.03012 E109.34173

S0.03012 E109.34173

Mengapa bernama Bubur Pesawat? Selama naik pesawat saya nggak pernah mendapatkan sajian bubur
seperti itu tuh. Ada dua versi tentang asal usul nama Bubur Pesawat. Versi pertama, ia dinamakan Bubur
Pesawat karena penyajiannya cepat. Tak sampai lima menit sejak dipesan, bubur dan segala lauknya
telah “mendarat” di meja konsumen.
Versi kedua, cara makan bubur tersebut memakai sumpit, bukan sendok. Nah, supaya buburnya bisa
masuk ke mulut, gerakan sumpitnya harus cepat layaknya pesawat. Kalau nggak begitu, bubur takkan
terdorong masuk ke mulut.
Di sebelah penjual Bubur Pesawat ada encek-encek yang menawarkan kengcie kwetiau. Kalau
diterjemahkan secara bebas, kengcie kwetiau bermakna kwetiau yang ekonomis. Dibilang demikian
karena kwetiau goreng itu tanpa daging. Kengcie kwetiau standar hanya terdiri atas kwetiau dan
sayuran. Telur baru ditambahkan pada kengcie kwetiau istimewa. Biarpun tanpa daging, cita rasa
kengcie kwetiau ternyata tetap sedap. Halal? Saya tak berani memastikan.

S0.03014 E109.34165

Sebagai pendamping makanan, saya memesan es sari kedelai. Di Pontianak, ia lebih dikenal dengan
nama air tahu.

S0.03014 E109.34165

Tuntas sudah aktivitas makan malam pada hari kedua saya berada di Pontianak. Dalam perjalanan
pulang ke hotel, saya sebenarnya hendak diajak singgah membeli kaloci. Tetapi, penjual makanan kecil
tersebut ternyata sudah tutup. Maklum, saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00.

.

S0.02991 E109.33948

“Ke Pontianak dalam rangka apa? Cari siomay atau si amoy?” tanya seorang teman saat ia mengetahui
saya sedang berada di Pontianak.
Kamis, 22 April 2010 adalah hari ketiga sekaligus hari terakhir saya di Pontianak. Saya tampil lagi
sebagai pembicara. Materinya relatif sama, namun pesertanya berbeda 180 derajat. Tuntas beracara, saya
dijadwalkan meluncur ke bandara, lalu terbang kembali ke Surabaya.
Usai mengantarkan sang buah hati ke sekolah, Pak Yam Hiong kembali menjemput saya ke hotel.
Agenda pokoknya hanya satu, mencoba kwe cap.
Penjual kwe cap yang menjadi favorit Pak Yam Hiong ternyata sedang libur. Baru awal bulan depan
gerai tersebut kembali buka. Maka, kami segera meluncur ke lokasi alternatif.
Berhentilah kami di depan gerai Anty’s Cellular, Jl Gajahmada 7, Pontianak. Lho, mau makan pagi
voucher pulsa? Bukan! Si penjual kwe cap memang menggelar lapaknya di pelataran toko ponsel yang
pagi itu belum buka.
Meja yang hendak kami gunakan untuk makan ternyata sudah dikuasai oleh seekor lalat. Ukurannya
cukup besar. Ini tampangnya:

S0.02991 E109.33948

Sang lalat rupanya tak demam kamera. Buktinya, biarpun saya berkali-kali menjepretkan kamera BB
Onyx, ia tidak buru-buru terbang.
Kwe cap yang dipesan akhirnya datang. Isinya berupa:
* kwetiau.
* kulit B2 yang berwujud seperti rambak basah.
* kacang kedelai.
* tahu.

Tidak ada daging pada mangkuk yang tersaji. Kendati demikian, kwe cap tetap layak dicoba. Saya justru
lebih menyukai kwe cap yang tanpa daging daripada kwe kia theng yang penuh daging.
Berikutnya, kami sebenarnya akan mencoba siobi. Namun, seperti yang telah diduga sebelumnya,
penjual siomay versi Pontianak itu belum buka.
Makan pagi terakhir di Pontianak terselesaikan. Tiga hari terasa begitu singkat. Beragam makanan dan
minuman yang awalnya belum saya rasakan, bahkan sekadar namanya pun tidak pernah saya dengar,
akhirnya bisa saya nikmati.
Selamat tinggal Pontianak. Lain kali ingin kembali lagi nih.🙂
Salam,

Herry SW

.

My other posts:

https://mantugaul.wordpress.com/all

 

12 Responses to “The Best of Pontianak”

  1. yh Says:

    banyak yg “sapi kaki pendek”…….hehehehehe
    next trip harus yg sapi kaki panjang…….

  2. Kristian Says:

    Wah, markas suhu Syd keliatan lho..😀

  3. Jarring B. Says:

    Mantaabs Om.. mohon ijin bookmark untuk jadi referensi🙂

  4. Victor Says:

    Lengkap datanya…..lihat dulu di googlemap TKP nya…

  5. john Says:

    jadi pengen ke ponti lagi.. salam kenal bro, istri saya asli sana, tinggal deket toko navigasi, gang mandor…

  6. saftari Says:

    Mana penampakan wanita pontianaknya?… kekeke

  7. john Says:

    @ saftari… ada om ditinggal dirumah, xixixixii

  8. BACKLINKS Says:

    hahahah,,,,,,,,,,penampakan paan tuchhh om,,,?????

  9. Riev Says:

    Sate sopnya kelewat?🙂

  10. windy Says:

    ayo ke pontianak , mashi banyak kuliner yg blm dibahas, kaloci, siobi, ciam bie ie, chai kue goreng, kwetiau siram apollo, durian pontianak (biasa lebih nikmat makan ditepi jalan krn bisa langsung dipilihkan yang terbaik langsung ditempat) dan masih banyak lagi =)

  11. SN84 Says:

    Jadi pingin ke Pontianak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s