Mantugaul's Gaul Site

Talk Less Pics More

Review Blackberry Z10, Kesan Pertama Blackberry 10 11 Februari 2013

Filed under: Ponsel — mantugaul @ 9:22 am
Tags: , , , , , , , ,

slide.idLatar Belakang BB10

Mendengar istilah “Blackberry”, biasanya pemakai Gadget akan terbagi menjadi dua kelompok besar. Yang menyenangi Blackberry dan yang “anti” Blackberry. Kalaupun jika perlu dibuat kategori tambahan, ada kelompok ketiga, yaitu kelompok orang yang sebenarnya tidak mau mempergunakan Blackberry, namun oleh karena kebutuhan, baik itu pekerjaan, pendidikan, faktor keluarga, maupun kolega, “terpaksa” mempergunakan Blackberry.
Salah satu faktor yang menyebabkan orang mulai “menghindari” Blackberry antara lain karena kekuatan utama Blackberry dalam fitur “messaging”, perlahan-lahan mulai tersaingi dengan program-program alternatif yang dapat beroperasi di berbagai sistem operasi (Multiplatform) seperti IOS, Android, Windows Phone atau Symbian, bahkan sistem operasi desktop seperti MacOS dan Microsoft Windows.
Selain itu, dengan kondisi persaingan seperti tersebut diatas, kadang semakin diperburuk dengan semakin lambatnya proses pengiriman informasi melalui perangkat Blackberry, baik itu berupa pesan BBM atau pengiriman informasi melalui program-program messenger lain di perangkat Blackberry. Entah karena memang kualitas jaringan operator seluler yang mengalami kelebihan beban, keterbatasan sistem operasi Blackberry yang berbasis Java atau keterbatasan kemampuan perangkat keras dari unit Blackberry itu sendiri. Atau malah merupakan kombinasi dari kesemuanya itu.
Perlahan tapi pasti, seiring dengan semakin bertambahnya pengguna handphone pintar berbasis IOS dari Apple dan Android dari sang raksasa Google, ditambah lagi dengan semakin terjangkaunya handphone-handphone berbasis Android yang tersedia di segala lini, baik low end, mid low, medium, sampai dengan high end, maka pangsa pasar Blackberry semakin hari semakin mengkerut. Belum lagi ketersediaan perangkat Android dalam berbagai ukuran, mulai dari 3 inci sampai 10 inci, terus menggerogoti jumlah pemakai Blackberry.
Saham Blackberry pun terus merosot, sampai sempat terhembus isu pembelian Blackberry oleh Samsung. Namun kabar ini langsung ditepis oleh pihak Blackberry (saat itu masih bernama Research In Motion – RIM). Di bawah tekanan hebat, pada bulan Januari 2012, CEO RIM pun berganti menjadi Mr. Thorsten Heins. Mr. Heins berjanji akan memberikan sebuah terobosan dalam bentuk perangkat Blackberry baru yang akan membalikkan kondisi RIM, sekaligus memuaskan para pecinta setia Blackberry.
Tepat satu tahun, pada tanggal 30 Januari 2013, pada acara Blackberry 10, Mr. Heins menepati janjinya dengan mempersembahkan dua perangkat baru besutan Blackberry, yaitu Z10 dan Q10, disamping mengumumkan beberapa hal yang penting: perubahan nama RIM menjadi Blackberry dan penunjukkan Alicia Keys sebagai Global Creative Director.
Pertanyaan yang mungkin timbul sekarang antara lain:

Apakah betul Z10 (dan Q10) adalah sungguh merupakan sebuah terobosan yang sudah lama dinanti-nantikan dan dijanjikan? Apakah Z10 sungguh superior, khususnya jika dibanding dengan perangkat Blackberry lama? Bagaimana jika dibandingkan dengan perangkat non Blackberry lain?
Apakah betul visi Mr. Heins yang mendorong transformasi “From mobile communication to mobile computing” sungguh menjadi kenyataan? Atau hanya berupa jargon-jargon belaka?
Apakah Z10 layak dibeli untuk kemudian menggantikan perangkat Blackberry lama?
Kita akan bersama-sama meneliti dan mengkaji hal ini….

z1000002

Blackberry Z10 Hands On

Saya sebisa mungkin tidak akan banyak membahas fitur perangkat keras Blackberry Z10 (Selanjutnya akan disebutkan sebagai Z10 saja), karena kita semua akan dengan mudah melihat spesifikasi tersebut di Internet. Tidak perlu untuk dijelaskan panjang lebar lagi disini. Namun saya akan berusaha semaksimal mungkin menggambarkan user experience, usability, interface dan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman user awam (Dan Newbie seperti saya tentunya) dalam mempergunakan Z10.

z1000001

Physical Looks

“Wow, this phone is seriously cool!” – merupakan salah satu kesan pertama yang timbul saat pertama kali melihat Z10. Kebetulan Z10 yang dipergunakan berwarna hitam. Tampak depan begitu elegan, dengan tulisan dan lambang Blackberry pada bagian bawah. Terlihat maskulin dan berwibawa. Ujung yang membulat, tanpa sisi tajam, juga membuatnya semakin enak digenggam. Tambahan lagi, layar Z10 tidak mudah meninggalkan bekas tangan. Apa mungkin lapisan coatingnya yang menyebabkan hal ini ya?
Sementara tutup baterai pada bagian belakang diselimuti tekstur yang membuatnya tidak licin, dengan lambang Blackberry persis di tengah-tengah. Cantik dan elegan. Mungkin untuk alternatif warna lain akan memberikan kesan yang berbeda pula.
Saya berusaha membandingkan ukuran Z10 dengan iPhone 4s dan iPhone 5. Jika dibandingkan dengan iPhone 4s, Z10 terlihat seperti raksasa. Setidaknya itu kesan yang diutarakan oleh petugas Global Apple. Sementara jika dibandingkan dengan iPhone 5, perbedaannya sepintas tidak terlalu mencolok.
Saat dibandingkan dengan Galaxy Nexus Sprint, secara lebar hampir sama, hanya terpaut beberapa milimeter saja. Galaxy Nexus masih sedikit lebih lebar, dan sedikit lebih panjang. Namun saat dijejerkan, dalam kondisi mati, Z10 jauh terlihat lebih elegan, dengan bentuk simetris. Sederhana tapi berkelas. Tulisan dan logo Blackberry terlihat begitu menonjol pada bagian bawah handset. Kenapa bisa begitu ya? Padahal desain Galaxy Nexus mendapatkan banyak pujian dan penghargaan. Superb!

z1000003

Initialization

Saat pertama kali baterai dimasukkan, proses inisialisasi Z10 pun dimulai. Dimulai dari pilihan bahasa, dilanjutkan dengan pemilihan jaringan Wi-Fi. Setelah berhasil memasukkan password Wi-Fi, proses inisialisasi pun berlanjut dengan….Blackberry-ID

Ada dua pilihan pada layar ini: Pembuatan-Baru (Create New) atau Masuk-(ke)-Dalam (Benar tidak sih arti bahasa Indonesianya? – Sign In). Karena sebelumnya di Jennings (Blackberry 9810) sudah mempergunakan Blackberry-ID, maka langsung saja Masuk-(ke)-Dalam(?) dengan ID dan Password.

Next…

z1000004
Diagnostic & Location

Proses dilanjutkan kembali ke layar “Diagnostic & Location”. Pilihannya hanya Disable dan Enable. Intinya kurang lebih: mengijinkan Blackberry untuk mengumpulkan data diagnostic, data pemakaian dan data lokasi yang akan membantu Blackberry meningkatkan kualitas produk dan layanannya, mengkustomisasi pengalaman yang akan kita dapatkan, menyajikan deteksi lokasi dengan lebih cepat dan meningkatkan kualitas informasi navigasi.
Whew! Ribet ya?
Berbeda jauh dengan proses menginstall program di Microsoft Windows, yang mana kita hanya perlu menekan tombol YES, YES, YES lalu tombol OK, OK, OK, maka instalasi akan berjalan secara otomatis sampai selesai. Namun untuk kali ini setiap langkah harus dicermati secara seksama. Yang perlu dikuatirkan adalah kemungkinan adanya pelanggaran privasi dalam bentuk pengumpulan data yang seharusnya tidak boleh diberikan. Mari kita lanjutkan kembali…

z1000005
System Updates

Langkah berikutnya adalah pengecekan apakah telah tersedia pembaruan (update) sistem operasi. Ternyata sudah tersedia update sebesar 1 MB. File update langsung diunduh, dan diinstall secara otomatis. Setelah proses update selesai, kita dihadapkan pada tutorial singkat mempergunakan fitur Swipe dan Gestures pada Z10.

.
Tutorial

Awalnya saya berpikir tutorial ini tidak begitu diperlukan, apalagi karena sebelumnya sudah memiliki pengalaman mempergunakan Playbook. Terasa membosankan dan membuang-buang waktu saja. Namun, setelah melihat dan mendengar respons dari rekan-rekan yang baru pertama kali mempergunakan Z10 yang berbasis QNX, barulah saya menyadari pentingnya tutorial mini tersebut:
“Ini mana tombol Back-nya, ya?”
“Kembali ke layar sebelumnya bagaimana ya?”
“Tutup programnya bagaimana ya?”
“Ini mesti diapain lagi ya?
Saya hanya bisa tersenyum simpul……
Pada akhirnya, saat semua proses selesai dilalui, kita akan diperhadapkan pada layar SETUP. Pada dasarnya proses inisialisasi utama sudah rampung. Yang tertinggal hanya tahapan kustomisasi SETUP saja. Namun sebelum kita bersama-sama masuk ke tahapan SETUP yang cukup komprehensif, ijinkan saya memberikan sedikit komentar tentang user interface dari Z10.

z1000006
Lock Screen & Screen Off

Dalam posisi terkunci (Lock Screen), layar Z10 dengan latar belakang biru, menampilkan beberapa informasi:
– Status baterai di ujung kiri atas
– Jenis jaringan (EDGE atau 3G) dan nama operator di ujung kanan atas
– Jam, hari dan tanggal di area tengah
– Logo kamera di ujung kanan bawah
– Unread messages di layar sebelah kiri: BBM, E-Mail, Notifikasi, LinkedIn dan Facebook
Semua informasi tersebut membuat Lock Screen Z10 terlihat bersih dan elegan. Apabila layar Z10 berada dalam kondisi gelap (Screen Off), untuk kembali ke kondisi Lock Screen, cukup menyapukan jari dari bezel bawah ke tengah layar. Tanpa perlu menekan tombol sama sekali. Sederhana namun efektif. Elok tenan!

Sementara apabila kita hendak mengaktifkan kembali Z10 dari posisi Lock Screen, kita hanya perlu menyapukan jari dari bezel bawah langsung ke bezel atas. Secara otomatis layar dibawahnya akan terlihat. Nilai plusnya adalah, proses ini disertai dengan animasi membuka selubung dengan efek transparan, seiring dengan bergeraknya jari tangan kita. Apabila kita membatalkan keputusan kita untuk membuka layar yang terkunci, cukup menyapukan jari kembali ke bawah. Efek selubung yang menutup kembali terlihat. Wow! Sebuah efek sederhana namun memberikan kesan yang mengena: We are in control. Splendid!

.
Screen Quality

By the way, have I told you that Z10 has a gorgeous and beautiful screen? After all 356 PPI should means something. Layar Z10 yang memiliki kerapatan 356 PPI memang sungguh mempesona. Sebagai perbandingan, layar iPhone 5 memiliki kerapatan 326 PPI sementara layar Galaxy Nexus Sprint memiliki kerapatan 316 PPI. Kedua mata kita serasa dimanjakan saat memandang dan menikmati sajian di layar Z10. Bahkan tulisan yang termasuk kecil masih terbaca dengan baik dan terlihat tajam. Yummy! Two thumbs up for the screen!

.
Consistency

Faktor konsistensi juga menjadi salah satu titik fokus perhatian Blackberry dalam pengembangan Z10. Saat kita berada di layar utama, atau di layar Blackberry Hub, maupun pada layar yang berisi icon program-program yang telah terinstall, kita dapat dengan mudah mengakses fitur dasar (Settings, Bluetooth, Wi-Fi, Alarm, Notifications dan Rotation Lock), cukup dengan menyapukan jari dari bezel atas ke bawah. Sederhana, namun efektif. Tidak perlu lagi membuka menu pilihan lain, cukup swipe dari bezel atas saja. No more hunting and pecking, only to access simple but repeatable functions.
Faktor konsistensi ini tidak berhenti hanya pada fitur “Option & Settings” saja, namun juga diimplementasikan di seluruh program dalam bentuk…

.

Blackberry Peek

Apabila diterjemahkan secara lepas, Blackberry Peek dapat diartikan Blackberry Meng-“Intip”. Fitur ini konsisten diterapkan di seluruh program dan bagian Z10. Blackberry Peek memungkinkan kita untuk “mengintip” pesan-pesan yang masuk, entah berupa E-Mail, BBM Message, Facebook Activity, SMS, LinkedIn Activity, Twitter dan update-update lain.
Blackberry Peek dapat diaktifkan dengan cara menyapukan jari dari bezel bawah ke tengah layar dan menahannya pada posisi tengah layar. Apabila kita telah selesai “mengintip” maka kita hanya perlu menurunkan tahanan jari di tengah layar kembali ke bezel bawah. Saat kita mengaktifkan fitur Blackberry Peek, sekaligus juga akan ditampilkan status baterai, jam, kondisi signal Wi-Fi dan selular. Dengan ketersediaan fitur ini, seluruh layar dapat dipergunakan oleh program yang sedang berjalan, tanpa harus menyisakan area untuk menampilkan informasi umum (Baterai, jam, tanggal, pesan-pesan masuk dan lain-lain). Perlu diingat, pada layar perangkat mobile yang kecil, satu milimeter pun menjadi sangat berharga. Sebuah solusi yang cerdas dari Blackberry. Bravo Blackberry!

.

Blackberry Hub

Berdasarkan Merriam Webster Online (http://www.merriam-webster.com/dictionary/hub ), hub dalam bahasa Inggris memiliki 3 arti (Diterjemahkan secara bebas):
1. Poros – pada roda dan baling-baling
2. Pusat aktivitas
3. Di konteks penerbangan diartikan menjadi bandara sentral yang menjadi tempat dimana penumpang dapat berganti maskapai atau penerbangan demi untuk mencapai tujuan
4. Alat pemersatu yang menghubungkan beberapa komputer dalam sebuah jaringan
5. Alat dari baja untuk membuat uang logam

Diantara beberapa arti tersebut diatas, yang paling mendekati konsep Blackberry Hub pada Z10 adalah “Pusat Aktivitas”. Di dalam Blackberry HUB (Selanjutnya disebut HUB dengan huruf kapital), terangkum semua akun yang kita miliki dan kita pergunakan. Misalnya pada unit Z10 yang saya pergunakan tertera akun-akun sebagai berikut (Diurutkan dari atas):
1. HUB – Gabungan dari semua, dengan logo Blackberry
2. Notifications – Biasanya berisi informasi dari system: update sistem operasi misalnya. Digambarkan dengan logo bel.
3. BBM – Memakai logo BBM tentu saja..
4. Text Messages – SMS
5. Gmail – Berisi E-Mail di akun Gmail, dengan logo Surat
6. Hotmail – Berisi E-Mail di akun Hotmail, dengan logo Surat
7. MalMalioboro – Berisi E-Mail di akun kantor, dengan logo Surat
8. Yahoo – Berisi E-Mail di akun Yahoo, dengan logo Surat
9. Facebook, dengan logo Facebook
10. Twitter, dengan logo Twitter
11. LinkedIn, dengan logo LinkedIn
12. Yahoo Messenger, dengan logo Yahoo Messenger
13. Calls – Dengan logo gagang telepon
14. Voice mail – Dengan logo pita kaset

Mungkin dengan bertambahnya akun E-Mail yang kita miliki, maka akan bertambah pula jumlah sub menu E-Mail di HUB kita. Apabila terdapat pesan baru, maka pada ujung kanan dari masing-masing logo akan terlihat simbol bintang berwarna merah khas Blackberry. Sehingga kita dapat dengan mudah masuk ke sub menu dengan pesan baru tersebut.
Saat berada dalam sub menu, misalnya pada sub menu Gmail, kita akan dengan mudah mengerjakan proses:
1. Membaca (Read)
2. Mencari (Search)
3. Membuat (Compose)
4. Membalas (Reply)
5. Membalas ke semua (Reply to all)
6. Melanjutkan (Forward)
7. Menandakan belum terbaca (Mark Unread)
8. Memberikan bendera (Flag)
9. Menyimpan (File)
10. Mengundang ke pertemuan (Invite to Meeting)
11. Menambahkan ke kontak kita (Add to contact)
12. Mencari berdasarkan Subjek (Search By Subject)
13. Mencari berdasarkan Pengirim (Search By Sender)
14. Menambah jumlah pilihan (Select More)
15. Menghapus (Delete)

Kesemua fitur tersebut diatas, kecuali proses membaca, diwujudkan dalam bentuk icon kecil di sisi kanan, yang akan muncul secara otomatis saat kita memilih salah satu E-Mail, dengan cara menekan E-Mail tersebut selama minimal satu detik. Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah menyeret (drag) E-mail pilihan kita ke icon proses lanjutan.

Setelah kita selesai melakukan apa yang ingin dilakukan pada sub menu, kita dapat dengan mudah kembali ke Root HUB dengan menekan logo sub menu di ujung kiri bawah. Atau yang lebih baik lagi, dengan menyapukan jari kita dari bezel bawah ke tengah layar. Kita akan otomatis kembali ke Active Frame. Begitu mudahnya!

Satu hal yang sangat menarik perhatian saya, dan nantinya akan kita coba eksplorasi lebih lanjut adalah: apabila kita memberikan bendera (Flag) di salah satu E-Mail, selain dari timbulnya lambang bendera berwarna merah di ujung kanan E-Mail, E-Mail tersebut akan muncul juga di program Blackberry Remember, menjadi item baru pada Folder “Unfiled Entries”. Sangat menarik!
Kita akan membahas hal ini lebih mendalam pada topik Blackberry Remember. Mohon saya diingatkan apabila saya lupa. Hehehe…

Blackberry HUB memiliki keterkaitan yang sangat-sangat erat dengan Blackberry Peek. Saya berharap rekan-rekan masih sedikit banyak mengingat bahasan tentang Blackberry Peek pada tulisan sebelumnya. Dengan adanya fitur Blackberry Peek, maka kita dapat dengan mudah melihat (atau mengintip) apakah ada pesan-pesan baru yang masuk. Proses mengintip ini dapat dilakukan secara konsisten di semua aplikasi, bahkan aplikasi video sekalipun (Dalam posisi portrait). Yang perlu kita lakukan hanya dengan menyapukan jari dari bezel bawah ke tengah layar. Dan apabila dirasa perlu untuk masuk ke Blackberry HUB, saat jari kita masih berada di tengah layar, kita hanya perlu melanjutkan sapuan jari kita ke kanan. Dan… Whoala! Blackberry HUB is there! So efficient! Sangat produktif!

Kemampuan multitasking Z10 menjadi nyata disini. Dibuktikan dengan misalnya saat kita sedang menonton sebuah video, dan kita ingin mengintip (“Peek”) sekiranya ada pesan baru yang masuk, proses pemutaran video masih tetap berjalan dan tidak dihentikan. Sampai apabila akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkannya ke HUB, maka proses pemutaran video akan berhenti. Program Video akan disimpan di Active Frame.

.

Apa itu Active Frame?
Active Frame merupakan salah satu layar dari beberapa layar tampilan Z10 yang akan menampung program-program yang saat itu sedang berjalan. Jumlah maksimum program yang dapat diterima Active Frame adalah delapan program.

Saat pertama kali kita menyalakan Z10, tanpa adanya program yang terbuka, Active Frame tidak tersedia. Pada ujung bawah tiap-tiap halaman layar, tersedia icon super mini yang menunjukkan dimana posisi kita berada saat itu. Simbol paling kiri dengan gambar tiga buah garis pendek, melambangkan Blackberry HUB. Lalu titik-titik kecil (Dots) yang apabila kita pilih, akan menunjukkan nomor halaman layar.
Apabila kita telah membuka sebuah program, misalnya program B.B.M, dan melakukan proses swipe ke atas, maka program B.B.M tersebut akan berubah menjadi sebuah Frame (Mirip seperti Widget di Android), berukuran seperempat layar. Maka secara otomatis pula, halaman Active Frame muncul. Pada barisan icon super mini di bawah layar, akan timbul icon mini baru: Icon Active Frame. Lokasinya persis di sebelah kanan icon mini Blackberry HUB.

Kita dapat juga dengan mudah bernavigasi atau berpindah halaman layar dengan mempergunakan icon super mini tersebut. Cukup menyapukan jari kita dimasing-masing icon mini, maka halaman layar pun akan berpindah secara otomatis. Bahkan jika kita perlu masuk ke HUB sekalipun. Cukup menyapukan jari kita ke icon di ujung paling kiri. Navigasi yang cerdas! Kudos to Blackberry!

.

“I Hate waiting!”, “Duh lemot amat nih BlackBerry!”, “Jiah! Jam pasir lagi!”
Betapa seringnya kita mendengar kalimat-kalimat tersebut diatas dalam keseharian kita. Bahkan kita sendirilah yang mungkin sering mengalami kejadian tersebut. Tidak ada seorangpun yang senang menunggu. Tidak ada seorangpun yang gembira manakala pada kondisi genting, dimana sebuah tugas harus dikerjakan dengan segera, tiba-tiba menjadi terhambat dikarenakan perangkat kita mogok merespon perintah kita.
Perangkat BlackBerry, khususnya tipe-tipe lama, sudah dikenal sebagai perangkat yang tidak cukup gegas dalam melakukan apa yang diingikan pemiliknya. Mulai dari proses booting yang memakan waktu cukup cukup lama, feedback aksi yang tidak dapat diprediksi, sampai keluarnya jam pasir yang sudah melegenda. Apabila kesabaran kita sudah habis, biasanya kita terpaksa melakukan proses booting. Celakanya lagi, setelah melakukan booting, ternyata ke-”lelet”-an BlackBerry tersebut tidak terselesaikan. Kita boot lagi. Begitu seterusnya. Entah sampai kapan.
Masalah ke-”lelet”-an di perangkat BlackBerry sebenarnya dipengaruhi banyak faktor. Kecepatan prosesor, jumlah memory terpasang, jumlah memory tersedia, jumlah aplikasi yang diinstall, jumlah kontak dan kontak BBM yang dimiliki, banyaknya BBM Groups (!) yang diikuti, faktor signal dan jaringan operator, lebar pita bandwith, sampai kepada kualitas layanan BIS itu sendiri.
Dalam proses pengamatan, seringkali penulis membandingkan pengguna BlackBerry dengan pengguna Android. Seorang pengguna Android dengan mudah akan dapat setidak-tidaknya memperkirakan kinerja atau performa sebuah perangkat Android dari spesifikasi perangkat keras yang dipergunakan: kecepatan & jenis prosesor, jumlah inti (core) dari prosesor tersebut, besar RAM terpasang, kecepatan GPU (Graphic Processor Unit), ketersediaan kamera depan dan belakang, besaran Mega Pixel dari kamera yang terpasang, fitur Autofocus dan lain-lain. Memang pada akhirnya, penilaian terakhir (Final Verdict) tetap harus diambil saat perangkat tersebut dipergunakan langsung. Namun setidaknya, perkiraan kita tidak akan jauh meleset.
Apabila kita secara dapat dengan mudah memperbandingkan kemampuan perangkat Android semata hanya dari spesifikasi perangkat kerasnya saja, dipihak lain, kita cenderung menyepelekan hal ini saat kita menilai sebuah
perangkat BlackBerry. Dengan naifnya kita kadangkala mengambil sebuah kesimpulan, bahwa semua perangkat BlackBerry memiliki kinerja yang kurang lebih sama. Jeleknya lagi, yang seringkali menjadi acuan kinerja kita
adalah perangkat BlackBerry dengan tipe-tipe tinggi (High end device). Hasilnya? Kekecewaan, kemarahan, caci maki, hujatan, bahkan sampai menjurus ke antipati, berupaya untuk tidak lagi mau mempergunakan perangkat
BlackBerry apapun. Mati-matian berusaha untuk meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan BlackBerry.
Masalah kualitas jaringan operator tidak akan penulis bahas disini, karena hal tersebut berada jauh di luar kendali kita sebagai pemakai. Namun suka atau tidak, faktor ini sebenarnya cukup memainkan peran signifikan dalam
menentukan kenyamanan kita mempergunakan perangkat bergerak kita.

Mengapa penulis mengangkat permasalahan ini? Secara tidak sengaja, penulis pernah mengalami sendiri, bagaimana spesifikasi perangkat keras BlackBerry sesungguhnya memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan kinerja dan kenyamanan kita bekerja.
Secara tidak sengaja, perangkat BlackBerry yang selama ini dipergunakan penulis, tipe 9810 (Jennings), sempat terjatuh bahkan sampai terinjak. Alhasil mati total. Proses perbaikan diperkirakan akan memakan waktu
minimal dua minggu. Beruntung ada seorang rekan di Yogyakarta yang berbaik hati meminjamkan BlackBerry 9700 sambil menunggu selesainya proses perbaikan Jennings. Aaah leganya. Hati menjadi tenang karena ada perangkat BlackBerry pengganti yang dipinjamkan. Pikiran penulis waktu itu: “It won’t be any problem at all. Just a device change and business will run as usual.” Namun apa yang akhirnya sungguh terjadi? Ternyata jauh panggang dari api.
Everything stucked!
Penulis akan memberikan sedikit gambaran tentang “tugas” yang selama ini diemban oleh “My Faithful Jennings”: 10 akun E-Mail dengan empat milis besar, koleksi 15.000+ pesan E-Mail, 2000+ Gambar, 100+ SMS, 1100+ Kontak BBM, 2000+ Kontak Tradisional, 10+ Grup BBM, Yahoo Messenger, Google Talk, Twitter, Facebook, KakaoTalk, Line, WhatsApp, Foursquare dan beberapa aplikasi standar lainnya.
Ada hal menarik yang ditemui: semua beban tersebut diatas akan berjalan dengan lebih lancar di 9810 apabila aplikasi padat grafis ditiadakan; Facebook dan Foursquare misalnya. This happens too for Social Feeds
program, one of the ultimate resource hogs. Kesimpulan sementara yang penulis ambil: 9810 masih mampu menangani aplikasi berbasis teks (Text based applications), meskipun jenisnya beragam dan bebannya tinggi. Namun begitu ditambah dengan aplikasi dengan padat gambar, it will eventually given up. Ditch them all, then your life is going to be much much easier.
Semua beban seberat itu selama ini dapat dijalani Jennings dengan setia. Meski tidak dapat disebut ringan, Jennings dapat menyelesaikan setiap perintah yang diberikan. Lambat namun pasti, inch-by-inch. Namun saat beban
serupa diaplikasikan ke 9700, it just didn’t work. Dari sinilah, penulis mengambil kesimpulan sangat sederhana, bahwa biar bagaimanapun, spesifikasi perangkat keras BlackBerry memainkan peranan yang sangat penting dalam menentukan kinerjanya.
Sebagai catatan, BlackBerry 9700 memiliki prosesor single core dengan kecepatan 624 MHz dan 256 MB RAM. Dilain pihak BlackBerry 9810 memiliki prosesor single core 1200 MHz dan 768 MB RAM. Berarti kecepatan prosesor 9810 hampir mencapai dua kali lipat kecepatan 9700, sementara jumlah memory 9810 persis tiga kali lipat 9700.
Oleh sebab itu, mungkin merupakan sebuah hal yang absurd apabila kita misalnya mengharapkan kinerja 8520 (CPU 512 MHz & RAM 256 MB) akan menyamai kinerja 9810 (CPU 1200 MHz & RAM 768 MB). Sama absurdnya jika kita berusaha memperbandingkan kinerja Google Nexus One (Single Core CPU 1 GHz & RAM 512 MB) dengan LG Nexus 4 (Quad Core CPU 1,5 GHz & RAM 2 GB). Perbandingan menjadi semakin tidak keruan saat berusaha membandingkan misalnya BlackBerry 9650 dengan HTX One X. Meskipun jika keadaannya dibalik, belum tentu HTC One X mampu menangani beban yang sama persis dengan 9650 in full load. Belum lagi masalah ketahanan baterai.
In short, we have to be extremely fair here. Cores-by-Cores, Ghz-by-GHz and Megabytes-by-Megabytes. Not only on Android World, but also on BlackBerry World. Fair and square.
Pertanyaannya sekarang, apakah perangkat BlackBerry baru (Z10) masih mewarisi permasalahan yang sama dengan perangkat BlackBerry sebelumnya?
Seperti kita semua ketahui, pada akhirnya, BlackBerry selaku perusahaan, mengambil pilihan yang sulit, yaitu dengan memutuskan untuk membuat sistem operasi yang sama sekali baru dan tidak mengadopsi sistem operasi yang sudah eksis di pasar. Proses pembuatan atau penyempurnaan sistem operasi baru ini memakan waktu kurang lebih dua tahun. Penulis yakin, pengalaman BlackBerry selama lebih dari 20 tahun dalam dunia telekomunikasi dan keamanan (security) memainkan peran yang sangat signifikan dalam proses ini.
Penulis juga percaya, berbagai permasalahan kita dihadapi setiap hari berkenaan dengan kendala penggunaan perangkat BlackBerry, sudah didengar, ditampung dan dicarikan solusinya oleh pihak BlackBerry. Pihak Blackberry berupaya membuktikan kesungguhannya untuk terus berinovasi mati-matian, dari dalam perusahaan sampai ke luar perusahaan. Salah satunya telah dibuktikan dengan transformasi nama perusahaan, dari sebelumnya RIM (Research In Motion) menjadi BlackBerry, menetapkan visi baru: “Dedication to boundless opportunity of mobile computing”, tagline baru: The BlackBerry Experience: Re-designed, Re-engineered, Re-invented dan perspektif baru: One Brand. One Promise, selain dari konsep baru: Keep Moving. Dan seterusnya.
Transformasi yang dilakukan mencakup juga pergeseran titik fokus: “From Mobile communication to true Mobile Computing”. Sehingga mulai dari awal proses perancangannya, BlackBerry 10 memiliki target pengguna yang cukup spesifik:

1. Hyperconnected socially, constantly connected all the time

2. Appetite to Getting things done

3. True multitasker

4. Get the most out of their smartphones

5. Need balance in both of their Professional and personal life

6. Want simplicity, everything in one place

7. Flow seamlessly from apps-to-apps and feature-to-feature, without having to go in-and-out using the home button all the times

8. Must have multitasking

9. Moving quickly

10. Need their device to keep them up the speed to get things done
Untuk segmen ini yang akan menjadi perhatian kita adalah point ke 7, 8, 9 dan 10 saja, yang terangkum dalam…

.
BlackBerry Flow
First things first. Demi untuk memastikan Z10 mampu memberikan kinerja yang mumpuni, maka Z10 dijejali dengan spesifikasi perangkat keras sebagai berikut:

– CPU Dual core 1.5 GHz

– RAM 2 GB RAM

– GPU Adreno 225

– Internal Storage 16 GB

– MicroSD up to 64 GB

– 4.2” 1280×768, 356 PPI

– NFC

– Bluetooth 4.0

– 8 MP back camera, with autofocus, LED Flash, Image stabilization & face detection

– 1080p@30fps with video stabilization

– 2 MP front camera, with 720p@30 fps video capability

– Accelerometer

– Gyroscope

– Proximity sensor

– Compass

.
Probably not the fastest one around, but compiled altogether, it is quite an impressive list. Dengan spesifikasi yang cukup mumpuni, diharapkan performa Z10 tidak akan terkendala keterbatasan perangkat kerasnya. Seperti
motto baru BlackBerry Z10 – “Built to keep you moving”.
Now to the software side..
Beberapa rekan yang mungkin sudah pernah mempergunakan BlackBerry Playbook, pasti dapat menyaksikan bagaimana Playbook dapat menyajikan True Multitasking, rapid response, relatively lag free actions and superb sound quality. Kesemuanya itu dihasilkan oleh sistem operasi QNX yang didukung sebuah prosesor dual core 1 GHz dan RAM 1 GB.
Z10 menyempurnakan pengalaman interaksi QNX di Playbook dengan spesifikasi perangkat keras yang lebih mumpuni ditambah dengan peningkatan di sisi sistem operasi, menghasilkan pengalaman yang kaya, gegas, responsif, dan lag free.
BlackBerry juga memperkenalkan sebuah konsep baru yang disebut sebagai “BlackBerry Flow”. Apabila diterjemahkan secara lepas, BlackBerry Flow adalah konsep pengalaman berinteraksi yang selalu mengalir maju (Moving
Forward), tanpa harus kembali ke belakang (Back) atau malah kembali ke Awal (Home), secara cepat dan berkesinambungan. Kita tidak perlu lagi keluar dari sebuah program atau aplikasi, dengan menekan tombol Back atau Home,demi mencari aplikasi berikutnya yang ingin kita eksekusi. Hal ini berlaku lebih khusus untuk aplikasi Messaging dan Social.
Proses ini akan menjadi lebih rumit apabila ternyata kita harus berpindah-pindah antara beberapa program demi untuk bertukar data. Copy, Back/Home, Paste, Back/Home, Copy, Paste. Begitu seterusnya. Betapa repotnya!
Filosofi “BlackBerry Flow”, mengoptimalkan fitur “BlackBerry Hub” dan “BlackBerry Peek”. Mungkin dengan memberikan beberapa contoh, hal ini akan menjadi lebih jelas:

1. Misalnya saat kita menerima sebuah file attachment pada E-Mail kita.

Apabila kita ingin langsung membagikannya (Share), kita hanya perlu memilih file attachment tersebut selama beberapa detik, maka akan keluar menu pilihan di sebelah kanan: Save, Share, Set As. Apabila kita memilih opsi Share, maka akan keluar pilihan lagi: BBM, BBM Group, Text Messages, E-Mail, Facebook, Twitter, Bluetooth, NFC dan Remember. Tinggal dipilih saja.
2. Ingin merubah status Facebook kita? Langsung dapat dilakukan via BlackBerry Hub. Tidak perlu khusus memanggil aplikasi Facebook. Masuk kesub section Facebook di BlackBerry Hub.

3. Ingin melakukan Tweet? Dapat juga langsung dilakukan via BlackBerry Hub, tanpa harus repot-repot memanggil program native Twitter. Tinggal memilih sub section Twitter di BlackBerry Hub.

4. Ingin mengubah status LinkedIn? Laksanakan via BlackBerry Hub. As simple as that. No hassles. Masuk ke sub section LinkedIn di BlackBerry Hub

5. Ingin melakukan call back atas missed call kita? Tinggal pilih sub section Calls di BlackBerry Hub. Apabila nomor tersebut belum terdaftar, ada pilihan untuk “Add to Contacts”. Apabila kita pilih, maka program Contacts akan terbuka secara otomatis. Tinggal kita pilih saja, apakah mau menambahkan ke existing contacts atau create new contacts. Apabila nomor tersebut sudah terdaftar dalam Contacts kita, dan kita ingin melihat update apa saja yang telah dilakukan oleh yang bersangkutan di Social media, tinggal kita pilih nomor tersebut, tekan opsi “View Contacts”, maka secara otomatis Contacts orang tersebut langsung terbuka. Pada layar Contacts tersebut, ada tiga sub bagian lagi: Details, Updates dan Activity.

Bagian Details berisi informasi detil: E-Mail, Facebook, Alamat, nomor telepon dan lain-lain. Bagian Updates langsung akan menampilkan aktivitasnya di Social Media. Sementara Bagian Activity berisi catatan interaksi kita dengan yang bersangkutan, baik berupa hubungan telepon maupun korespondensi E-Mail.
6. Kita menerima sebuah E-Mail dari orang baru, dan kita ingin menambahkan alamat E-Mail tersebut ke Contacs kita. Tinggal tekan tombol Options (Dengan lambang tiga titik di sudut kanan bawah), akan keluar banyak pilihan, salah satunya adalah Add to Contact. So simple!

7. Ingin langsung mengagendakan sebuah pertemuan (Meeting) dengan dasar sebuah E-Mail? Masuk ke E-Mail tersebut, tekan tombol Options, pilih “Invite to Meeting”. Tadaa! Langsung program Calendar terbuka. Subjek

Meeting otomatis akan terisi dengan subjek E-Mail. Participants akan terisi juga dengan alamat email yang tercantum pada email tersebut. Bagian “Notes, Reminder, Status” akan terisi dengan body dari E-Mail tersebut. Superb!

8. Ingin memfollow up sebuah Email? Masuk ke E-Mail tersebut, lalu pilih Options, pilih opsi Flag. Sebuah record baru di BlackBerry Remember akan langsung dicreate, masuk dalam kategori Unfiled Entries. Lengkap berisi Subjectnya. More on BlackBerry Remember later on.

9. Setelah mengambil sebuah foto, setelah puas melakukan editing di Picture Editor, kemudian ingin langsung membagikannya ke jejaring Social Media? Email? BBM atau BBM Group? Tinggal pilih Opsi “Share”maka akan keluar pilihan lagi: BBM, BBM Group, Text Messages, E-Mail, Facebook, Twitter, Bluetooth, NFC dan Remember.

10. Mau melihat jadual hari ini? Cukup swipe jari dari atas saat berada di BlackBerry Hub.

11. Ingin menambahkan orang-orang yang akan mengikuti meeting? Sekaligus mengirimkan undangan Meeting? Semua dengan mudah dilakukan, mulai dari BlackBerry Hub, masuk ke Calendar, pilih bagian People, pilih Edit, pilih Participants dan Invite. Ada opsi juga untuk Send Invitation. Cool! Lalu kembali lagi ke BlackBerry Hub. Semua dilakukan tanpa harus memanggil aplikasi nativenya. Cool!

12. Apabila kita diberikan nomor telepon via SMS, E-Mail atau BBM, nomor telepon itu akan berwarna biru, seperti links. Cukup menekan nomor tersebut, maka nomor tersebut akan dipanggil secara otomatis.

13. Begitu pula apabila kita diberikan alamat E-Mail atau link sebuah situs, cukup memilih alamat E-Mail atau link tersebut, maka secara otomatis akan memulai proses pengiriman E-Mail atau Internet browser.

14. Dan banyak lagi kemudahan-kemudahan lainnya. Semuanya dapat dilakukan dengan sangat efisien dari BlackBerry Hub. Seperti apa yang dijanjikan BlackBerry: Work smarter & Smoother. Quick & simple. Keep Moving. Jujur, setelah beberapa waktu berinteraksi dengan interface BlackBerry 10, saat kembali mempergunakan sistem operasi Android di Galaxy Nexus, meskipun sudah memakai versi terbaru di 4.2.2, interface Android terasa “Jadoel” dan obsolete. Menjadi kurang efisien karena harus menekan tombol Back dan Home. Bahkan sesekali jari penulis secara reflek melakukan proses swipe dari bawah ke atas….

.

Do you agree that BlackBerry keypad is the best keypad on mobile devices?

Apabila kita bertanya kepada 10 orang pengguna setia BlackBerry di Indonesia, apa fitur yang menjadi fitur favorit, mungkin sebagian besar akan menyebut keypad fisik sebagai salah satu fitur favorit. Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah keypad BlackBerry sungguh merupakan keypad terbaik di perangkat mobile?

Sedikit kembali ke belakang saat Penulis pertama kali mengenal BlackBerry, adalah BlackBerry 9000 atau yang biasa dikenal dengan BlackBerry Bold Classic. Seperti yang kita semua ketahui, BlackBerry 9000 memiliki keypad yang nyaman dipergunakan, sebelum akhirnya kenyamanan tersebut lebih disempurnakan oleh keypad BlackBerry 9900/9930.

Kenyamanan melakukan pengetikan baik berupa pesan BBM, E-Mail, SMS, bermacam program Messaging, maupun program-program sosial media, tidak dapat ditandingi dengan keypad virtual, setidaknya pada saat itu. Saat itu BlackBerry dengan keypad virtual masih mempergunakan SurePress dengan opsi SureType, khususnya di seri 9500, 9520, 9550.

Penulis masih mengingat dengan jelas, disalah satu milis BlackBerry yang diikuti, ada beberapa orang yang mengklaim kemampuan mengetik dengan SureType jauh lebih cepat dan jauh lebih akurat dibanding mempergunakan keypad fisik. Klaim tersebut sungguh menggelitik perhatian. Is it true?

Sejak saat situ, Penulis berusaha mencari kesempatan untuk dapat mencoba sendiri kecanggihan SureType. Sayangnya kesempatan itu tak kunjung datang.

Sampai suatu ketika, kesempatan itu datang dalam kejadian yang sama sekali tak terduga. Semoga rekan-rekan masih ingat bagaimana perangkat BlackBerry 9810 yang sudah sangat setia menemani Penulis selama ini jatuh dan mengalami kerusakan. Sempat mendapatkan pinjaman BlackBerry 9700, namun ternyata 9700 tidak mampu menangani beban kerja yang selama ini ditanggung oleh 9810. Sebuah kenyataan pahit yang harus diterima dengan lapang dada.

Akhirnya Penulis mencoba membulatkan tekad untuk mencoba dengan sesungguh-sungguhnya BlackBerry 9860. This is the time! Perfect timing! Awalnya Penulis sangat antusias saat mencoba BlackBerry 9860. Harapan melambung tinggi untuk dapat memaksimalkan kecanggihan teknologi SureType. Bahkan jika dirasa perlu, mencari seorang mentor atau siapapun yang bersedia untuk memberikan pengajaran, arahan serta tips-tips bagaimana dapat mewujudkan klaim bahwa SureType mampu mengetik dengan lebih cepat dan lebih akurat dibanding keypad fisik. The spirit is soaring up to the sky.

Namun sayang sekali, apa yang sesungguhnya terjadi dalam waktu dua minggu setelah itu, sangat jauh dari impian Penulis. Kesulitan demi kesulitan, kerumitan demi kerumitan, terus mendera. Selain dari proses adaptasi yang banyak menyita waktu yang berakibat pada turunnya produktivitas dan rendahnya efisiensi, tingginya tingkat kesalahan sampai kepada titik yang tidak bisa ditoleransi, membuat segala sesuatunya menjadi tidak terkendali. Baik dalam proses navigasi maupun dalam tingkat akurasi pengetikan. Bukan optimalisasi yang diraih, frustasi yang didapat.

Keadaan yang sudah cukup konyol tersebut semakin diperburuk lagi dengan ketiadaan kosa kata bahasa Indonesia secara default. Kita diharapkan untuk memasukkan minimum 5000 kosa kata bahasa Indonesia, atau lebih, demi untuk meningkatkan kenyamanan kita ber-SureType. Mungkin faktor kecerdasan Penulis yang sangat kuranglah yang menjadi penyebab utama kekacauan ini. Penulis dianggap kurang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk dapat sungguh-sungguh mengoptimalkan BlackBerry dengan keypad virtual.

Sejak saat itu, kekaguman Penulis akan rekan-rekan yang masih tetap mampu mempergunakan dan mengoptimalkan BlackBerry dengan keypad virtual semakin tinggi. These are the people who are the true BlackBerry masters! I salute them all.

Singkat kata, akhirnya dengan sangat menyesal dan dengan sangat terpaksa, Penulis terpaksa melepas harapan dan impian untuk dapat menguasai BlackBerry dengan keypad virtual. Penulis hanya dapat bertahan dalam waktu dua minggu saja. That’s it! I’m done with virtual keypads! Bahkan Penulis sempat berjanji untuk hanya akan mempergunakan BlackBerry dengan keypad fisik dan tidak lagi mau memakai BlackBerry dengan keypad virtual. Period!

After all, if BlackBerry makes the best physical keypads, why use the virtual one?

W-R-O-N-G

Not only BlackBerry is the creator of best physical keypads, but also best virtual keypads as well.

Saat Penulis mendapatkan kesempatan untuk mencoba BlackBerry Z10, sempat timbul pesimisme dan skeptisisme di dalam hati: Apakah Penulis akan kembali mengalami kesulitan seperti saat mencoba BlackBerry 9860? Akankah pekerjaan dan tugas yang selama ini lancar dikerjakan dengan keypad fisik harus kembali terkendala oleh kesulitan mempergunakan keypad virtual? Akankah produktivitas Penulis akan kembali anjlok? Keram otak, anyone? Anybody?

W-R-O-N-G A-G-A-I-N

Dengan sangat hati-hati dan dengan perasaan yang berdebar-debar, Penulis berusaha mencoba belajar mempergunakan BlackBerry Z10. From the beginning. From zero. From square one.

First thing first. Ada empat fitur penyelamat yang menghasilkan pengalaman menulis di BlackBerry Z10 begitu menyenangkan:

Built in Indonesian Language
Alangkah senangnya Penulis saat menemukan sebuah fakta menarik bahwa BlackBerry Z10 telah menyediakan kosa kata Bahasa Indonesia secara default. Kita tidak lagi perlu untuk memasukan kosa kata tambahan. Semua sudah tersedia dan tinggal dipergunakan saja. Ready to use. So simple. Five thousand words no more. Adios Amigo.

Word Suggestion
Dengan tersedianya kosa kata bahasa Indonesia, maka fitur Word Suggestion di Z10 menjadi maksimal. Word Suggestion di Z10 diwujudkan dalam kata-kata kecil yang berada di atas tombol huruf. Misalnya, saat menekan tombol “S”, maka akan timbul kata “Saya” di atas tombol huruf A, kata “Selamat” di atas tombol huruf E, kata “Sudah” di atas tombol huruf U. Begitu seterusnya. Jika kita memang ingin memilih kata yang telah disarankan itu, yang kita perlu lakukan hanya “mencungkil” kata tersebut. Maka kata tersebut akan otomatis disisipkan ke lokasi dimana kursor sedang berada, disertai dengan animasi “melayang”-nya kata tersebut ke atas. Very nice!

Word Correction
Z10 juga secara cerdas akan mengingat kata-kata apa saja yang sering kita pergunakan. Apabila kita melakukan sedikit kesalahan pengetikan, maka Z10 akan menampilkan kata hasil koreksi tersebut pada tombol Space Bar. Misalnya, apabila kita ingin menuliskan kata “Selamat”, namun kita sudah terlebih dahulu menulis “Semama”, Z10 secara cerdas akan menafsirkan kata itu menjadi “Selamat”. Kata “Selamat” berwarna biru akan bertengger manis di atas tombol Space bar, menunggu kita untuk menekannya. Apabila kita menekan tombol Space Bar, maka kata “Selamat” lah yang akan dimasukkan, dan bukan kata “Semama”. Smart!

Word Substitution
Selain dari dua fitur di atas, kita juga dapat menentukan sendiri kata-kata yang akan kita tulis, dengan hanya menuliskan sebagian saja dari kata tersebut. Misalnya contoh kata “Selamat” di atas. Apabila kita sering mempergunakan kata ini, kita bisa saja membuat masukan kata “Slm” pada fitur Word Substitution (Sebelumnya dikenal dengan sebutan Autotext). Sehingga apabila kita ingin menulis kata “Selamat”, kita cukup menulis “Slm”, dan menekan tombol spasi. Z10 akan menyempurnakannya menjadi kata yang lengkap, sesuai dengan apa yang sudah kita deklarasikan sebelumnya. Fitur ini sangat berguna khususnya untuk beberapa kata, atau kalimat, yang sangat sering kita pergunakan. Misalnya nomor telepon, alamat kantor atau rumah, alamat E-Mail, nomor rekening bank dan lain sebagainya.

Keempat fitur tersebut di atas: Native Indonesian Language, Word Suggestion, Word Correction dan Word Substitution, akan saling bekerja bersama secara erat untuk mewujudkan sebuah pengalaman mengetik yang luar biasa pada BlackBerry Z10. Lebih hebatnya lagi, semakin lama dipergunakan, Z10 akan semakin mahir menafsirkan apa kata berikutnya yang ingin kita tuliskan. Semakin lama kita akan mampu mengetik dengan lebih cepat dan lebih akurat. Less error. Less mistypes. As if Z10 knows what you’re going to type next. Brilliantly amazing!

Malah dalam beberapa kesempatan, setelah sempat membandingkan kecanggihan keypad Z10 dengan Swiftkey di Android, Penulis cenderung menilai keypad virtual di Z10 sedikit lebih cerdas dan akurat. Fitur lain yang juga dirasakan sangat bermanfaat adalah, apabila Z10 telah kurang akurat dalam menafsirkan kata yang hendak ditulis, dan kita melakukan koreksi dengan menekan tombol Backspace, Z10 akan mengembalikan kata tersebut ke kata asalnya, sementara SwiftKey tidak.

Salah satu keunggulan dari adanya keypad fisik adalah kita dimampukan untuk melakukan proses penulisan tanpa harus melihat tuts (Blind Typing). Akankah kita mampu melakukan hal ini pada Z10? Mengapa tidak? Mungkin saja. Namun tentu saja untuk dapat mencapai keterampilan dan keahlian seperti itu, perlu proses belajar yang cukup lama dan konsisten.

Apakah Penulis tetap berpegang pada janji untuk hanya mau mempergunakan BlackBerry dengan keypad fisik saja?

I think not. Thus, I have to going back and reconsider my decision.

Malah dengan semakin lamanya Penulis mempergunakan Z10, bukan saja janji untuk hanya mempergunakan BlackBerry dengan keypad fisik semakin terlupakan, malah timbul pertanyaan yang sangat kuat dan mengganggu: Apakah masih diperlukan keypad fisik? Relakah mengorbankan lebarnya dan nyamannya “screen real estate”? Maukah berkompromi pada turunnya resolusi secara drastis? Apakah merupakan sebuah “trade off” yang sepadan, menukar kenyamanan screen demi adanya keypad fisik? I surely don’t know. At least until we have tried the physical keypads on the upcoming BlackBerry Q10. Who knows, I again have to reconsider. One more time. Sigh.

Dan apabila kita sungguh-sungguh mendambakan kenyamanan sebuah keyboard fisik, Z10 mampu bersanding dengan sebuah keyboard Bluetooth berukuran normal yang banyak tersedia bebas. Penulis sudah mencoba menyandingkan Z10 dengan dua buah keyboard Bluetooth: Logitech dan Advanced. Keduanya dapat berfungsi dengan sangat baik, minus tombol-tombol fungsi yang memang hanya optimal bekerja di sistem operasi Android, Windows dan iOS: fungsi Back, Home, Play, Pause, Forward, Backward, Lock Screen, E-Mail, Browse dan sebagainya.

Dengan adanya keyboard Bluetooth ini, maka Penulis dapat dengan mudah mengkomposisi sebuah E-Mail, mengupdate Blog, mengirim SMS, membalas BBM, bahkan pada BBM Grup sekalipun, di Z10. Sebuah kemewahan yang sudah lama ditunggu-tunggu. Sebagai catatan, keyboard Bluetooth juga dapat disandingkan dengan BlackBerry Playbook. Namun karena BlackBerry Playbook belum dapat terkoneksi dengan BBM Grup, maka kenyamanan mengetik dengan keyboard Bluetooth di BBM Grup belum dapat dinikmati. Sayang sekali. Semoga tidak lama lagi, saat BlackBerry Playbook menerima update OS 10, Playbook dapat ber-BBM Grup secara independen, tanpa harus melalui BlackBerry Bridge. Another BBM Grup experience with Bluetooth Keyboard. Whoa!

Apabila keyboard Bluetooth masih dirasa kurang dalam interaksi kita dengan Z10, kita masih dapat melengkapinya dengan sebuah tetikus (Mouse) Bluetooth. Then Z10 will become a complete mobile device. Bayangkan saat Z10 yang sudah terkoneksi dengan Keyboard dan Mouse melalui Bluetooth, Z10 juga terhubung ke TV layar datar melalui kabel Micro HDMI. What we have here is the ultimate presentation device! Keyboard and mouse are connected wirelessly. Fantastic!

Jangan dilupakan, Z10 masih dapat terhubung dengan BlackBerry Playbook melalui BlackBerry Bridge via Bluetooth. Meskipun secara jujur, Penulis belum menemui situasi yang memerlukan setup konfigurasi seperti itu (Z10, Playbook, Mouse & Keyboard Bluetooth), mungkin kondisi itu akan berguna suatu hari. Haha.

Secara natural, kita semua akan berusaha terus mencari jalan bagaimana mengoptimalkan seluruh kemampuan gadget yang kita miliki. Seperti motto yang sudah sering saya lontarkan: Gadget That Works! Meningkatkan produktivitas kita sampai maksimal, dengan bantuan semua perangkat yang kita miliki.

Kita akan amati pergeseran optimalisasi ini, khususnya pada perangkat dan metode input. Apabila sebelumnya kita sudah cukup puas dengan adanya sebuah keypad telepon tradisional yang cukup baik (ABC, DEF, GHI, JKL, MNO, PQRS, TUV dan WXYZ), kenyamanan kita akan makin dipuaskan dengan adanya keypad QWERTY penuh. Berikutnya kita akan semakin dimanjakan dengan fitur Autotext. Ditambah dengan fitur Word Predictions dan Word Corrections. Lalu apa lagi berikutnya? What’s next? Voice-to-text?

P-R-E-C-I-S-E-L-Y

Trend itulah yang saat ini sedang diuji Penulis. Z10 sudah memiliki fitur tersebut secara built-in, meskipun masih dalam bentuknya yang sederhana dan dalam bahasa Inggris. Fitur ini diberi nama Voice Control. Bahasa yang sudah dapat dimengerti Z10 adalah bahasa Inggris, Spanyol, Jerman, Perancis dan Italia. Belum ada bahasa Indonesia. Maybe next time Mr. Heins. Hopefully it is. Fitur ini akan kita jelajahi lebih dalam lagi pada artikel yang akan datang.

Setelah menuliskan beberapa episode yang membahas Z10, ada seorang rekan yang bertanya, bagaimana cara Penulis membuat artikel-artikel yang cukup panjang tersebut? Apakah mempergunakan perangkat mobile? Dengan keypad virtual atau dengan mempergunakan keyboard Bluetooth? Mempergunakan komputer jinjingkah? Atau bagaimana?

Khusus untuk pembuatan artikel ini, Penulis mempergunakan dua langkah tahapan. Langkah terakhir atau sering disebut langkah editing masih dilakukan melalui komputer jinjing. Sementara langkah pertama yang atau saya sebut sebagai langkah kreatif, dilakukan dengan proses voice-to-text.

Three full pages.

Thirty minutes.

In Indonesian.

Full dictation

I was shocked

.

Tulisan ini ditulis oleh:

Hadiwijaya Sasanadi, Pin:25A2717C, Sasanadi@yahoo.com

Many thanks bro Hadi.
.
.
My other posts:
 

35 Responses to “Review Blackberry Z10, Kesan Pertama Blackberry 10”

  1. Agus Says:

    Jika BB itu seperi iphon atau seperti android ane yakin bos banyak yg pake…

  2. harga resminya brp nih oom Syd?

  3. Z10 masih pake PIN dan paket BIS ga om?

  4. mantugaul Says:

    Eykin Ng (@eykin_ng): tidak lagi, skrg pakainya BBID & internet biasa, wifi ada tanpa langganan apa2 juga jalan BBMnya

  5. tanpa SIM card bisa ga ya BBM-an ngandelin wifi doang?

  6. mantugaul Says:

    Eykin Ng (@eykin_ng): bisa, sudah kayak smartphone biasa, yg penting ada internet saja…

  7. cahyadi Says:

    kalau PB saya sudah support OS 10 baru beli Z10, kasian PB nya g bisa powerfull melawan tablet android lainnya

  8. Galih FK Says:

    Pernah disandingkan dengan PB nggak ? Bisa Akur ngga yah

  9. mantugaul Says:

    galih fk: gak punya pb

  10. rizki Says:

    Minusnya cuma 1…. baterai cepat overheat dan boros… stay di 3G cuma bertahan 4jam

  11. doel Says:

    mohon detail cara simpan pesan SMS di BB Z10 bagaimana caranya, karena di BB lawas sangat mudah ada menu simpan pesan dalam tab pesan sms tsb ketika di buka, terima kasih

  12. rudy alfian Says:

    Nanya aja. Kalau aplikasi untuk presentasi pakai bluetooth. Ada nda. Sy pernah liat orang menggunakan bb10. Untuk presentasi dgn data d ponselnya. Tapi di tampilkan di bigscreen. Mks

  13. mantugaul Says:

    rudy alfian: blm ada

  14. Bandeng Mania Says:

    Saya merasa sangat puas dengan z10 sejak 11 bulan yang lalu, dan semakin hari semakin mantap…

    Z10 TOP

  15. mantugalau Says:

    nanya oom : gimana cara menyimpan no telp misscall atau last call…ke dalam contact….

  16. mantugaul Says:

    Mantugalau: kurang tau gak pakai bb

  17. novall Says:

    om bb z10 saya ko nginstalnya sampe lama banget kenapah ya om

  18. mantugaul Says:

    Novall : kemungkinan not compatible

  19. aristo Says:

    Mohon bantuannya pak, gimana caranya mengaktifkan kembali aplikasi Facebook yang tidak lagi mendukung integrasi Hub pada ponsel BlackBerry Z10?

  20. mantugaul Says:

    Aristo: cari apknya

  21. aristo Says:

    Begini pak, pada saat sy membuka aplikasi Facebook muncul perintah: “aplikasi Facebook tdk lagi mendukung integrasi Hub. Untuk terus mengakses Facebook, Anda harus keluar dari facebook di perangkat Anda”. Nah sy coba kluar dr Facebook dan malah sy hapus aplikasi Facebook dan mendownload ulang aplikasinya trus sy coba lagi masuk tapi perintahnya begitu trus,, sy juga cek di aplikasi BlackBerry Hub. ternyata icon Facebook tdk ada dan muncul juga pak,, mohon bantuan dan solusinya pak… Thank’s

  22. mantugaul Says:

    Aristo: fb sudah putus hubungan dgn bbos.

  23. aristo Says:

    Mksdx pak?? Facebook udah gak bisa lagi di instal dan dibuka di ponsel BlackBerry Z10, atau gimana??

  24. aristo Says:

    Jadi solusinya gimana ya pak, agar sy bisa membuka dan memakai kembali Facebook sy di BlackBerry Z10?? Mohon bantuannya ya pak,,,

  25. mantugaul Says:

    Aristo: bikin petisi bisa atau beli priv

  26. aristo Says:

    Caranya gimana ya pak,, mohon tolong panduannya pak..

  27. mantugaul Says:

    Aristo: kontek pihak bb

  28. aristo Says:

    Boleh gak aq minta nomor kontak pihak bb yg bisa aq hubungi?

  29. Anonim Says:

    Apk apa Tuh pak, di opsi mana?

  30. mantugaul Says:

    Anonymous : baca komen 32

  31. Anonim Says:

    Bb bagus, tapi nambah aplikasi banyak yg mesti bayar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s